Rasul Allah swt

PENGERTIAN RASUL ALLAH SWT

Rasul adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah swt dengan berkewajiban untuk mengamalkan dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia.

“Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiyaa : 27)


TUGAS RASUL-RASUL ALLAH SWT

1. Menyampaikan (Tabligh)

  1. Menuntun manusia mengetahui pencipta alam semesta ini sebagaimana tercantum di dalam surat Al An’am (6) : 102 dan surat Ar Ra’du (13) : 16, serta menuntun manusia untuk mengenal sifat-sifat Sang Pencipta tersebut.
  2. Mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah swt (QS. Al Anbiyaa’ (21) : 25, QS. An Nahl (16) : 35)
  3. Memberi kabar gembira dan ancaman (QS. Al An’an (6) : 48, QS. Al Baqarah (2) : 213, QS. Al Kahfi (18) : 56)
  4. Sebagai hujjah atas manusia (QS. An Nisaa (4) : 165, QS. Thaahaa (20) : 34, QS. Asy Syu’araa (26) : 108)
  5. Menunjukkan manusia Jalan yang lurus (QS. Al Mu’min (40) : 38, QS. Maryam (19) : 43)

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 67”

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al Ahzab : 39)

2. Mendidik dan Membimbing

  • Memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskannya dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela.
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)
  • Meluruskan aqidah/ideology serta fikroh yang menyimpang dari Islam
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al Baqarah : 213)
  • Memimpin umat dengan menjalankan metode Ilahi dan sistem Robbani
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad : 26)

Inilah salah satu tugas para Rasul Allah swt yang sangat berat, karena jiwa tidak akan berjalan lurus di atas manhaj yang benar hanya dengan mengajaknya ke manhaj tersebut. Oleh sebab itulah, Rasul Allah swt adalah orang-orang yang memang telah terpilih dan memiliki sifat-sifat yang tinggi,sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran:

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj : 75)

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah." Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” (QS. Al An’am : 124)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam : 4)

Rasul-rasul Allah swt adalah mereka yang memang orang-orang pilihan Allah swt yang memiliki sifat-sifat yang mulia, yang dengan sifat-sifat tersebut mereka mampu melakukan hal-hal berikut:

Yang pertama Rasul-rasul Allah swt adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi tauladan terhadap segala sesuatu yang ia serukan kepada umatnya.

Kedua, mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji, seperti sifat sabar, pemaaf, dan lapang dada, sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al An’am : 34)

Ketiga, mereka mampu untuk selalu mengadakan hubungan vertikal dengan Allah swt.

Keempat:, mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik terhadap sesama manusia, sehingga dapat memberikan tuntunan kepada mereka, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al Furqan : 20 yang artinya “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”

Dan yang kelima adalah mengetahui tabiat jiwa untuk memberikan tuntunan dengan metode dan cara yang relevan denga tabiat jiwa seseorang.


SIFAT-SIFAT RASUL ALLAH SWT

1. Mereka adalah manusia biasa

Setiap Rasul yang diutus Allah swt adalah manusia biasa, sebagiamana tercantum di dalam Al Quran surat Al Israa’: 93-94. Mereka memerlukan makan, minum, (QS. Al Furqaan : 20), beristeri (QS. Ar Ra’du:38), ditimpa sehat dan juga sakit (QS. 21:83-84), sama seperti manusia lainnya.

“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca." Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul? Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?"” (QS. Al Israa’ : 93-94)

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.” (QS. Al Furqaan : 20)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)[” (QS. A Ra’du : 38)

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya : 83-84)

Mengapa Allah swt memilih Rasul-Nya dari golongan manusia biasa dan bukan dari golongan malaikat atau yang lainnya? Berikut alasannya:

a) Malaikat tidak berjalan di muka bumi dengan tenang layaknya manusia, sebab mereka diciptakan bukan untuk menghuni bumi.

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI? Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul."” (QS. Al Israa : 94-95)

b) Malaikat apabila turun ke bumi harus berbentuk manusia, dan setelah itu manusia tidak bisa membedakan antara malaikat dan manusia biasa.

“Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki- laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri” (QS. Al An’am : 9)

c) Seandainya Rasul Allah swt itu malaikat dan bukan manusia, maka hal itu tidak akan ada hikmahnya, sebab Rasul Allah swt tidak dapat diutus hanya untuk menyampaikan saja, melainkan ia juga tetap tinggal bersama mausia untuk mendidik dan menuntun mereka sebagaimana tercantum di dalam Al Quran surat Al Jumu’ah : 2 dan Maryam : 41-43, serta menjadi suri teladan yang baik bagi manusia sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran surat Al Ahzab : 21, Al An’am : 89-90, Al Mumtahanah : 4.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam : 41-43)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am : 89-90)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."” QS. Al Mumtahanah : 4)

2. Ma’shum (terjaga dari kesalahan)

Semua Rasul Allah swt adalah ma’shum, tidak pernah bersalah dan dalam menyampaikan risalah dari Allah swt. Yang dimaksud dengan ma’shum adalah bahwa mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak mengerjakan hal-hal yang haram dan tidak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebagaimana firman Allah swt berikut:

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran : 161)

“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm : 1-4)

Meskipun demikian, namun tidak menutup kemungkinan bahwa para Rasul Allah tersebut juga dapat melakukan kesalahan yang berhubungan dengan ijtihad (pendapat) pribadinya yang tidak ada sangkut pautnya dengan wahyu Allah swt, seperti cemberutnya Rasulullah saw ketika Ummi Maktum yang menanyakan perihal Islam kepada beliau yang terdapat dalam firman Allah swt surat ‘Abasa : 1-7, atau ijtihad Rasulullah saw mengenai tawanan perang Badar yang telah dinyatakan oleh Allah swt di dalam surat Al Anfaal: 67-69

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa : 1-7)

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Anfaal : 67-69)

3. Sebagai suri tauladan bagi manusia

Allah swt mengutus para Rasul-Nya dari golongan manusia pilihan yang memang memiliki sifat-sifat mulia yang bisa dijadikan suri tauladan dalam kehidupan manusia.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am : 89-90)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapakny: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."” (QS. Al Mumtahananh : 4)

Rasul-rasul Allah swt adalah para manusia pilihan yang memang mampu menjadi tauladan dalam berbagai hal dan aspek kehidupan.


RASUL-RASUL ULUL ‘AZMI

Ulul ‘Azmi secara bahasa berarti yang memiliki kemauan yang keras. Yang dimaksud dengan ulul ‘azmi adalah para Rasul yang memiliki kesabaran yagn sangat tinggi. Berikut adalah beberapa Rasul Allah swt yang termasuk ke dalam ulul ‘azmi:

1. Nabi Nuh AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al Ahzab : 7)

2. Nabi Ibrahim AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al Ahzab : 7)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).” (QS. Ash Shaaffaat : 102-103)

3. Nabi Musa AS

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy Syuura : 13)

4. Nabi Isa AS

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran : 52)

5. Nabi Muhammad SAW

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS. Al Ahzab : 7)

Begitu banyak kisah-kisah yang tertulis di dalam berbagai riwayat yang mengambarkan betapa Rasulullah Muhammad saw adalah manusia yang sangat sabar dan santun. Berikut kami berikan dua contoh riwayat yang mngisahkan tentang kesabaran Rasulullah Muhammad saw.

“Jubair bin Muth’im berkata, ketika ia bersama Rasulullah saw, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah saw berhenti sejenak dan berseru,”Berilah mantelku ini! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian “ (HR. Bukhari)

“Anas bin Malik bertutur: Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw. Saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah. Laki-laki dusun tersebut berkata, “Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang.” Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, “Berilah laki-laki ini makanan apa saja,” (HR Bukhari).

www.syahadat.com

0 komentar:

Poskan Komentar